"Seekor kerang mutiara akan menjadi kerang yang tak memiliki nilai apa pun bila tak ada mutiara di dalam cangkangnya. Tahukah bagaimana caranya seekor kerang dapat menghasilkan sebutir mutiara yang indah? Di dalam cangkangnya yang keras dipaksakan masuk sebuah benda asing untuk mengganggunya. Bagi sang kerang, benda asing itu menyebabkan iritasi dan rasa sakit. Begitu pula musibah yang menimpa manusia, semakin berat musibah yang menimpanya kelak akan menghasilkan mutiara yang semakin besar dan indah pula. Kesabaran itu pahit untuk dikecap tapi kelak akan membuahkan keindahan yang tak ternilai."

Kaizen Sabar

>> Sabtu, 25 Juli 2009

KAIZEN SABAR DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI
Pedoman menjadikan dunia sebagai budak Anda menuju akhirat




Kai (改) berarti perubahan, sedangkan zen (善) berarti baik. Kaizen adalah berusaha untuk melakukan perbaikan secara kontinyu di seluruh aspek kehidupan manusia. Perbedaan dengan kaizen sabar adalah pada kaizen sabar hanya memfokuskan kepada ketetapan Allah SWT. Sebenarnya siklus kaizen sabar sudah ada pada saat kita melaksanakan kesabaran sesuai dengan syariat Islam. Jadi siklus ini bukanlah siklus yang baru dalam kehidupan kaum muslim yang takwa kepada Allah. Siklus ini pula bukan berasal dari Jepang atau masuknya budaya-budaya asing ke dalam ajaran syariat. Namun karena di Jepang juga mengenal filosofi perbaikan yang kontinyu yang mereka sebut kaizen, maka penulis meminjam istilah kaizen dengan menambahkan kata “sabar” untuk menjadi pembeda keduanya.


Segalanya berawal pada qodha dan qodar

Apakah kita memiliki sifat yang kurang terpuji yang tidak sesuai dengan syariat? Apakah kita mendapat musibah yang menyakitkan? Apakah kita sedang mengalami penurunan dalam usaha? Dan lain sebagainya, semuanya ada pada siklus tersebut pada tahapan qodha dan qodar. Sifat yang kurang terpuji (maksiat) akan menjadi haram untuk kita ridhoi keberadaannya, maka dengan usaha secara lahir kita harus berusaha menghilangkan sifat buruk tersebut. Bila kecanduan narkoba maka kita harus berusaha secara lahir untuk menghentikannya. Kemudian usaha lahir tersebut harus dibarengi dengan usaha secara batin, yaitu berdoa untuk dikuatkan oleh Allah agar dapat menjauhi larangan-Nya. Lakukan usaha secara lahir maupun batin dengan ikhlas untuk Allah, karena Allah, dan demi Allah.

Begitu pula bila kita mengalami musibah, maka sunnah hukumnya untuk ridho terhadap musibah yang kita hadapi. Namun wajib hukumnya untuk bersabar atas ketetapan Allah. Lakukan usaha lahiriah dalam mengahadapi musibah tersebut dan jangan lupa berdoa kepada Allah untuk diberi kekuatan menghadapi musibah dan kemampuan untuk bersyukur pada seluruh ketetapan-Nya.

Disaat kita mengalami penurunan dalam hasil usaha kita, maka ini menjadi kewajiban syariat. Karena mencari penghidupan di bumi secara halal adalah suatu kewajiban manusia. Gunakan usaha secara lahir untuk mengetahui penyebab utama penurunan hasil usaha kita dan berusaha secara pintar dan giat untuk mengatasi hal tersebut. Jangan lupa berdoa untuk memohon kemudahan dalam mencari rezeki-Nya. Lakukan dengan ikhlas lillahi ta’ala. Lakukan perbuatan lahir dan batin hanya untuk Allah, karena Allah, dan demi Allah.

Bagaimana bila hasil yang didapat tidak sesuai dengan harapan?

Ini akan kembali menuju tahapan qodha dan qodhar. Bila kita belum mampu menghentikan sifat yang kurang terpuji, maka berusahalah terus jangan pernah berhenti untuk berusaha secara lahir dan batin. Perbanyak istighfar untuk memohon pengampunan-Nya. Tak kenal lelah dalam berjuang walau gagal berkali-kali lebih baik dari pada berputus asa kepada rahmat dan ampunan-Nya. Inilah mengapa dinamakan kaizen sabar, karena usaha harus kita lakukan terus dan terus hingga nyawa kita sudah sampai di tenggorokan. Inilah yang dinamakan sabar dalam menjauhi larangan-Nya.

Bila musibah belum dapat kita atasi, maka baca ulang buku ini dari awal agar selalu sabar dan dapat bersyukur menghadapi musibah. Bayangkan balasan Allah yang indah di akhirat atas seluruh kesulitan-kesulitan yang Anda hadapi. Jangan pernah menyerah dan lakukan untuk Allah, karena Allah, dan demi Allah. Jangan berfokus pada hasil yang berupa materi tapi berfokuslah pada peningkatan iman Anda. Ingatlah Allah tak akan meninggalkan Anda walau sedetikpun. Inilah yang dinamakan sabar dalam menghadapi musibah.

Bila usaha belum mengalami kemajuan, maka jangan pernah menyerah. Cari tahu apa yang menjadi kegagalan Anda dan berusahalah secara lahir dan batin untuk mengatasi kegagalan menjadi keberhasilan. Gunakan ibadah-ibadah sunnah selain ibadah wajib untuk lebih mendekatkan diri Anda kepada Allah. Mulai dari shalat sunnah rawatib, duha, tahajud dan lainnya. Sedekah dan zakat hingga umrah bila mampu. Gunakan sabar sebagai pedang untuk kemenangan dunia dan akhirat. Inilah yang dinamakan sabar dalam beribadah

Kemudian selanjutnya tak jarang Anda akan mendapatkan qodha dan qodar yang baru, atau bahkan berjalan paralel di saat Anda baru mencapai salah satu tahap kaizen sabar. Maka qodha dan qodar baru tersebut akan memulai siklusnya yang lain.

Sifat zuhud dan Istiqomah yang menggerakkan sabar

Jadikan dunia sebagai budakmu, jangan pernah mau diperbudak oleh dunia. Jadikan dunia sebagai kendaraan menuju surga, jangan pernah mau untuk dikendarai dunia menuju neraka. Carilah rizki sebanyak-banyaknya untuk bekal di akhirat, karena tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah. Zuhud tidaklah melulu diidentikkan dengan hidup dalam kemiskinan. Zuhud adalah menjaga hati agar tidak tertawan oleh nafsu duniawi. Kekayaan dan kebahagiaan letaknya di hati dan keduniawian tidak menjamin Anda kaya dan bahagia di dunia.

kemudian istiqomah akan menjadi semangat utama agar kita meneruskan sifat sabar ini hingga maut memisahkan kita. (http://mutiaradibalikmusibah.blogspot.com)


Read more...

Bersyukur karena musibah I


Bersyukur Karena Musibah I

Beberapa dari pembaca pasti akan mengerutkan dahinya ketika membaca topik ini. Bagaimana mungkin manusia dapat bersyukur karena musibah bencana yang ia hadapi ?

(11) Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. (Q.S.22/ Al Hajj: 11)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa, “Datangnya musibah-musibah adalah nikmat. Karena bencana menjadi sebab untuk dihapuskannya dosa-dosa. Ia juga menuntut kesabaran, sehingga orang yang tertimpa musibah dan tetap bersabar akan mendapatkan pahala”. Bukankah hal tersebut adalah nikmat yang paling agung ? Maka musibah bencana adalah rahmat Allah yang paling agung kepada mahluk-Nya, kecuali apabila orang yang tertimpa musibah tersebut justru terjerumus kepada kemaksiatan. Apabila hal tersebut terjadi kepadanya maka itu akan menjadi keburukan baginya.

Empat tingkatan orang yang mendapat bencana

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin mengatakan, bahwa ada empat tingkatan orang ketika menghadapi musibah:


Tingkatan pertama: marah

Tingkatan marah ini meliputi tiga keadaan: 1. Ia menyimpan perasaan marah di dalam hati kepada Allah. Sehingga dia pun marah kepada apa yang ditetapkan Allah kepada dirinya. Hal ini adalah haram bahkan bisa menjerumuskan kepada kekafiran. 2. Kemarahan diekspresikan dengan ucapan. Seperti mendoakan kecelakaan dan kebinasaan, atau ucapan semacamnya. Hal seperti ini juga haram hukumnya. 3. Kemarahannya sampai meluap-luap sehingga terekspresikan dengan tindakan anggota badan. Seperti menampar-nampar pipi, merobek-robek pakaian. Mencabuti rambut dan perbuatan semacamnya. Perbuatan ini haram hukumnya dan meniadakan sifat sabar yang wajib ada.

Tingkatan kedua: bersabar
Walaupun musibah yang ia terima teramat berat, namun orang tersebut masih bisa bersabar dan tabah dalam menanggungnya. Dia merasa tidak senang atas musibah yang terjadi terhadap dirinya. Tapi imannya masih dapat menjaganya untuk tidak marah. Terjadinya musibah tersebut dengan tidak terjadinya musibah masih terdapat perbedaan baginya. Ini adalah tingkatan yang wajib. Sebab Allah SWT telah memerintahkan untuk bersabar.

Tingkatan ketiga: merasa ridho
Perbedaan yang mendasar antara tingkatan ketiga ini dibanding tingkatan kedua adalah pada tingkatan ini, ada atau tidak adanya musibah betapapun beratnya bagi orang yang mengalaminya adalah sama saja. Orang tersebut ridho terhadap musibah yang menimpanya. Ia merasa yakin kepada Allah bahwa musibah yang diturunkan kepadanya adalah semata-mata untuk kebaikan dirinya. Sehingga ada atau tidak adanya musibah tidak ada bedanya bagi orang tersebut

Tingkatan keempat: bersyukur
Ini adalah tingkatan tertinggi. Ia justru bersyukur kepada Allah atas terjadinya musibah yang menimpanya. Orang tersebut menyadari, seberapapun ringan atau beratnya musibah adalah faktor bagi terhapusnya dosa-dosa yang pernah ia lakukan. Bahkan terkadang bisa menjadi sumber penambah amal kebaikan.

Syaikh Shalih Alu Syaikh Hafizhohulloh dalam Syarah Arba’in An-Nawawi pun mengungkapkan hal yang sama. Beliau mengatakan bahwa ketika tertimpa musibah, di samping wajib untuk bersabar, juga disunahkan untuk ridho bahkan jika mampu, bersyukur.
(http://mutiaradibalikmusibah.blogspot.com)




Read more...

Hot Info !!!

Dapatkan Buku ini secara gratis dengan tanda tangan pengarang eksklusif untuk Anda !!!

Caranya: Silahkan Curhat tentang musibah yang sedang menimpa Anda atau teman Anda di Buku Tamu tepat di samping kanan. Kemudian sebutkan alasan mengapa Anda layak mendapatkan buku ini.

Pengirim terbaik akan mendapatkan Buku Gratis "Mutiara Dibalik Musibah, Perjalanan Mencari Cinta yang Hanya untuk Allah".

Tanya Mbah Gugel

Buku tamu: Testimonial dan Curhat di sini

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP